Hipotermia adalah kondisi ketika suhu inti tubuh menurun di bawah
35°C akibat paparan lingkungan dingin atau gangguan kemampuan tubuh mempertahankan
suhu normal (American Heart Association, 2020).
Berdasarkan suhu inti tubuh, hipotermia dibagi menjadi:
·
Hipotermia ringan (32–35°C): penderita masih sadar dan menggigil.
·
Hipotermia sedang (28–32°C): kesadaran mulai menurun, menggigil berkurang, koordinasi tubuh
terganggu.
·
Hipotermia berat (<28°C): tidak sadar, denyut nadi dan pernapasan sangat lambat, berisiko
mengalami henti jantung.
Penyebab dan Faktor
Risiko
Hipotermia pada pendaki gunung dipengaruhi oleh kombinasi faktor
lingkungan dan kondisi individu.
Faktor lingkungan
·
Suhu udara rendah
·
Hujan dan salju
·
Angin kencang (wind chill)
·
Ketinggian tempat
·
Paparan dingin dalam waktu lama
Faktor individu
·
Pakaian basah
·
Kelelahan fisik
·
Dehidrasi
·
Kekurangan kalori
·
Kurangnya perlengkapan
pelindung
·
Cedera atau penyakit tertentu
Menurut Wilderness
Medical Society (2019), pakaian basah dan angin merupakan kombinasi yang paling
sering mempercepat penurunan suhu inti tubuh pada pendaki.
Manifestasi Klinis
Hipotermia Ringan
·
Menggigil hebat
·
Kulit dingin
·
Bicara pelo
·
Koordinasi tubuh menurun
·
Sulit berkonsentrasi
Hipotermia Sedang
·
Menggigil mulai berhenti
·
Kebingungan
·
Mengantuk
·
Napas melambat
·
Nadi melemah
Hipotermia Berat
·
Tidak sadar
·
Tidak menggigil
·
Bradikardia berat
·
Pernapasan sangat lambat
·
Risiko henti jantung
Penanganan
Pertolongan Pertama
Menurut Wilderness Medical Society (2019) dan European Resuscitation
Council (2021), langkah pertolongan pertama meliputi:
1. Mengamankan Lokasi
Korban dipindahkan ke
tempat yang terlindung dari angin, hujan, atau salju untuk mengurangi
kehilangan panas lebih lanjut.
2. Penilaian ABC
Lakukan pemeriksaan:
·
Airway (jalan napas)
·
Breathing (pernapasan)
·
Circulation (sirkulasi)
Jika tidak terdapat tanda
kehidupan, lakukan resusitasi jantung paru (RJP) sesuai pedoman yang berlaku
oleh penolong yang terlatih.
3. Mengganti Pakaian Basah
Seluruh pakaian
basah dilepas dan diganti dengan pakaian kering untuk menghentikan kehilangan
panas melalui evaporasi.
4. Rewarming (Penghangatan)
Penghangatan
dilakukan secara bertahap dengan:
·
Sleeping bag
·
Selimut
·
Emergency blanket
·
Jaket tebal
·
Kontak tubuh (body-to-body
warming) bila diperlukan
Fokus penghangatan
adalah bagian inti tubuh seperti dada, leher, ketiak, dan selangkangan.
5. Pemberian Cairan Hangat
Apabila korban
sadar penuh dan mampu menelan, dapat diberikan minuman hangat manis untuk
membantu meningkatkan produksi energi. Minuman beralkohol dan berkafein tidak
dianjurkan.
6. Evakuasi
Korban hipotermia sedang hingga
berat memerlukan evakuasi ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan
lanjutan berupa penghangatan aktif dan pemantauan fungsi organ.
Hal yang Tidak
Dianjurkan
Beberapa tindakan yang sebaiknya dihindari adalah:
·
Menggosok tubuh korban secara
keras.
·
Memberikan alkohol.
·
Menggunakan air yang terlalu
panas.
·
Memaksa korban berjalan.
·
Menghangatkan ekstremitas
terlebih dahulu tanpa menghangatkan bagian inti tubuh.
Tindakan tersebut dapat memperburuk kondisi dan meningkatkan risiko
terjadinya afterdrop, yaitu penurunan suhu inti tubuh lebih lanjut akibat
kembalinya darah dingin dari ekstremitas ke sirkulasi pusat.
Pencegahan
Pencegahan
hipotermia meliputi:
·
Menggunakan sistem pakaian
berlapis (layering system).
·
Membawa pakaian cadangan yang
tetap kering.
·
Mengonsumsi makanan tinggi
kalori secara berkala.
·
Memenuhi kebutuhan cairan.
·
Memantau kondisi cuaca sebelum
dan selama pendakian.
·
Membawa perlengkapan darurat
seperti emergency blanket, sleeping bag, dan kotak P3K.
·
Menghindari pendakian seorang
diri.
·
Menghentikan aktivitas apabila
muncul gejala awal hipotermia.
Kesimpulan
Hipotermia
merupakan keadaan darurat medis yang sering dijumpai pada aktivitas pendakian
gunung. Kondisi ini dapat berkembang dari gejala ringan menjadi mengancam nyawa
apabila tidak dikenali dan ditangani secara cepat. Penanganan awal yang tepat
meliputi penghentian kehilangan panas, penghangatan inti tubuh secara bertahap,
pemantauan fungsi vital, serta evakuasi ke fasilitas kesehatan apabila
diperlukan. Persiapan pendakian yang baik, penggunaan perlengkapan yang sesuai,
serta edukasi mengenai pertolongan pertama merupakan langkah penting dalam
menurunkan angka kejadian hipotermia di lingkungan pegunungan.
Daftar Pustaka
American Heart Association. (2020). Highlights of the 2020
American Heart Association Guidelines for CPR and ECC. American Heart
Association.
Brown, D. J. A., Brugger, H., Boyd, J., & Paal, P. (2012).
Accidental hypothermia. The New England Journal of Medicine, 367(20),
1930–1938. https://doi.org/10.1056/NEJMra1114208
European Resuscitation Council. (2021). European Resuscitation
Council Guidelines 2021: Cardiac arrest in special circumstances. Resuscitation,
161, 152–219. https://doi.org/10.1016/j.resuscitation.2021.02.011
International Commission for Alpine Rescue (ICAR). (2023). Medical
Commission Recommendations for Mountain Rescue.
https://www.alpine-rescue.org
Wilderness Medical Society. (2019). Wilderness Medical Society
Clinical Practice Guidelines for the Out-of-Hospital Evaluation and Treatment
of Accidental Hypothermia: 2019 Update. Wilderness & Environmental
Medicine, 30(4), S47–S69. https://doi.org/10.1016/j.wem.2019.05.002
World Health Organization. (2021). WHO Emergency Care Systems
Framework. https://www.who.int

0 Komentar